Friday , 25 July 2014

Home » Berita Baru » Efek Jokowi

Efek Jokowi

Fajar Yulianto

Fajar Yulianto

Oleh: Fajar Yulianto

BEGITU besar pengaruh Jokowi di Indonesia. Tak ada yang menyangka seorang anak tukang kayu bisa menjadi pejabat yang paling berpengaruh di negerinya. Bahkan ia juga menjadi wali kota terbaik ketiga di dunia, seperti yang dilansir oleh situs World Mayor. Jokowi disandingkan dengan Wali Kota Bilbao, Inaki Azkuna, dan Wali Kota Perth, Lisa Scaffidil.

Ada banyak hal yang ia lakukan semasa menjabat menjadi wali kota Solo. Salah satunya adalah merelokasi pedagang kaki lima (PKL) ke tempat yang lebih layak. Salah satunya di Banjarsari. Pada saat itu Jokowi membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan untuk menggelar pertemuan dengan PKL. Jokowi mengajak PKL untuk makan malam atau siang di kediaman wali kota di Loji Gandrung.

Butuh waktu yang sangat lama untuk merebut hati PKL. Tak jarang PKL membawa spanduk yang berisi ancaman kepada wali kota. Bahkan, kantor wali kota juga diancam dibakar. Namun, ketika semuanya sudah mulai lunak, PKL pun setuju untuk direlokasi. Diangkutlah barang-barang milik PKL menggunakan 45 truk diiringi oleh upacara adat Jawa.

Dari hasil relokasi tersebut dan didukung oleh iklan-iklan yang mempromosikan lokasi baru PKL, penghasilan mereka meningkat tajam. Dan kabarnya hingga ada yang memiliki omzet sebesar Rp 300 juta per bulan.

Hal-hal seperti inilah yang membuatnya PDIP tertarik untuk menunjuknya menjadi calon gubernur DKI Jakarta pada 2012 lalu. Gaya blusukan yang tawarkannya sudah menjadi tren di Indonesia. Begitu besar efek kepemimpinan tersebut hingga semua orang memakai kata blusukan dalam kegiatan sehari-hari.

Hal serupa juga dilakukan Ganjar Pranowo (gubernur Jawa Tengah) dan Tri Rismaharini (wali kota Surabaya). Keduanya juga melakukan blusukan, karena setiap kali bekerja mereka tak segan-segan langsung turun ke lapangan. Baju kotak-kotak yang menjadi trade mark Jokowi juga dipakai oleh anggota PDIP lainnya, seperti Rieke Diah Pitaloka yang pernah menyalonkan diri sebagai gubernur Jawa Barat, meski akhirnya gagal menang.

Pilpres 2014
Banyak orang yang menilai bahwa sejak Jokowi sukses menjadi wali kota Solo dan menang pilkada DKI Jakarta, elektabilitas Jokowi terus meningkat khususnya dalam bursa capres 2014 mendatang. Isu yang sering berembus di media menyebutkan Jokowi diprediksi akan menjadi capres dari PDIP.

Menurut Charta Politica, jika Jokowi ikut bertarung dalam Pilpres 2014 akan mendapatkan perolehan suara yang sangat besar. Elektabilitas Jokowi mencapai 38,4 persen, mengungguli Prabowo Subianto yang hanya mendapatkan 11,2 persen. Ini disebabkan kepercayaan publik terhadap beberapa capres yang ada sangatlah kecil. Terlebih, beberapa di antara mereka masih menyimpan cerita buruk di masa lampau. Ada yang tersandung kasus HAM di era Orba dan ada yang tak acuh terhadap bencana alam yang disebabkan perusahaannya.

Memang muncul pro-kontra jika Jokowi maju sebagai capres dalam Pilpres 2014. Seperti halnya ketika menjabat wali kota Solo, Jokowi dianggap melepas tanggung jawab ketika hendak maju di pilkada DKI Jakarta. Masa jabatannya saat ini sebagai gubernur DKI Jakarta pun belum genap dua tahun. Terlebih, Basuki Tjahaja Purnama–yang akrab disapa Ahok– otomatis menggantikannya sebagai gubernur bila Jokowi menang pilpres, belum bisa dterima warga Jakarta. Sebagian masyarakat Jakarta belum bisa menerima ada pemimpin dari etnis lain atau memeluk agama selain Islam. Lurah Susan adalah contoh kecil dari kasus tersebut. Padahal, jika dilihat ketulusan dan kinerjanya, bukan dari agama atau etnis, DKI Jakarta pasti menjadi lebih baik lagi di masa mendatang.

Dengan demikian, di atas kertas jika PDIP ingin menang Pemilu Legislatif 2014, Jokowi bisa menjadi pilihan utama karena elektabilitasnya sebagai capres sangat tinggi. Minimnya kepercayaan masyarakat terhadap capres lainnya menjadi alasan kuat mengapa Jokowi kemungkinan besar menang pilpres.

Jokowi memang terbukti telah berkarya untuk Solo dan mengubah sistem kerja para birokrat di DKI Jakarta. Namun, agak disayangkan jika PDIP memanfaatkan seorang Jokowi semata-mata hanya untuk berjaya di Pemilu 2014. Apakah PDIP betul-betul memanfaatkan kepopuleran Jokowi agar bisa kembali berkuasa? Kita bisa melihatnya beberapa bulan ke depan.

Efek Jokowi Reviewed by on . [caption id="attachment_10204" align="alignnone" width="256"] Fajar Yulianto[/caption] Oleh: Fajar Yulianto BEGITU besar pengaruh Jokowi di Indonesia. Tak ada y [caption id="attachment_10204" align="alignnone" width="256"] Fajar Yulianto[/caption] Oleh: Fajar Yulianto BEGITU besar pengaruh Jokowi di Indonesia. Tak ada y Rating:
scroll to top